Daun kuning ada didepanku
Berpangku tangan saja aku
Tangisan hati terisis
Kulit bambu yang membekas
Kau senyum disampingnya
Masih menympan harapan
Seandainya aku itu
Mulia dan sukarkah itu
Sayang, sirna semua
Selamat dan selamat
Waupun merahnya api ada dihati ini
Dapatkah aku sember air
Untuk meluluhkan
Merah yang melebihi warna darah
Sulitkah itu
By : Pambudi Eko Cahyono
Untu protol , kamis (30/09/2010)
================================
Kamis, 30 September 2010
Senin, 27 September 2010
Garis Kehidupan Berbelok, Menjadi Penjahit Sepatu.
Garis Kehidupan Berbelok, Menjadi Penjahit Sepatu.
================================================================================
(sekedar cerita saja).
Beban keluwarga membawa Supardi memikul kebutuhan hidup, hanya semata karena keluwarga, Selaput tangan putih yang siap menghisap keringat ia letakkan di pundaknya.Tak kenal sang fajar,ia berangkat, dan tak kenal petang ia pulang.
Membawa satu pikul ranjang yang berisikan benang, jarum, yang ia ikatkan di belakang sepedah supra fit warna hijau, ia berangkat ke Tuban untuk mengais rupiah, seribu, lima ribu ia kantongi. Nampang depan PMI , Tepatnya, sebelah balai wartawan Tuban ia duduk dan menunggu orang yang mempunyai sepatu atau sandal rusak.
Satu atau dua orang ia menunggu, untuk mendapatkan uang Rp.10.000, hanya ingin membeli beras satu kilo perharinya demi keluwarga tersayang. Lauk seadanya, yang ada disamping rumahnya, yakni daun singkong ia makan setiap hari.
Dari pernikah pertamanya, Supardi nekat untuk meninggalkan keluwarganya, hanya semata ingin mempunyai uang banyak dan membuat keluwarga sakinah dan mawadah.
Malang melintang ia mengadu nasib, dari Jawa Tengah, Jakarta, Samarinda ia lakoni itu, namun garis kehidupan membayanya seperti itu. Sabar dan doa ia panjatkan kepada tuhan, adzan berkumandang seakan mengetuk hatinya untuk berpasrah diri dan meminta petujuk,walaupun itu saat kerja,ia meniggalka aktifitasnya.
Setelah ia berkerja puluhan tahun dari luar daerah, ia hanya membawa uang seadanya, itupun hanya untuk hidup satu bulan, Dan ia memutuskan pulang dengan apa yang ia dapat dari perantauan yang lama itu.
Dari perantuanya , ia berniat pulang untuk berkumpul keluwarga , walaupun di rumah sangat kekurangan sumber pangan. Sehingga lelaki ini membuka usaha dengan menjadi tukang jahit sepatu.
Saat pertama dibuka, ada salah satu pelanggan yang ingin menjahitkan sendal yang baru di beli, dengan duduk dan menunggu sandalnya jadi. Pria tampan sedikit manis ini bertanya kepada Supardi,” sampeyan tiang pundi pak,,?”, dengan nada yang lembut dan intonasi yang lurus.
Pertanyaan tersebut, dijawab tulus dengan penjahit yang berkulit putih itu,” kulo Montong mas”, serentak, jawaban itu membuat pelanggan itu berpikir,”o... kalau gitu iki tonggo iki,,?’ pikiran pria berjenggot yang bernamakan Pambudi Eko Cahyono itu.
Pambudi yang ingin mengetahui alamatnya secara lengkap bertanya kembali” Montong Pundi pak, mpon lami pak tengmriki”, dengan pertanyaan yang panjang, Supriadi yang menggunakan topi yang lawas menjawab,”saya Sumorgong mas, tapi saya jarang dirumah”, jawaban yang halus ia lontarkan kepada pria berambut pendek tersebut.
Pambudi Kaget,”Aku juga Montong pak, walah pak,, podo wong montong. Kok iso ngeneki piye yow, petok ora njarak” dengan bahasa jawa kasar mereka bercanda dan terlihat akrab layak teman lama yang baru ketemu.
Dalam kebersamaanya itu, penjahait beranak dua itu, bertanya kepada Pambudi,” Kopen anak’e sopo dek , kok ora pernah ngerti aku”, pertanyaan itu membuat pria berkulit sawo matang yang keget dengan pertanyaan dengan sandi bahasa itu,” Kulo anak’e ibu Amelia pak, sampeyen kenal ta pak”.
Kaget dengan jawaban itu,”sopo dek, Amelia,,,?. Iku koncoku sekolah dek , dadine sampeyan iki anak’e ,kok wes gede tenan sampeyan, gak ngiro aku dek,” jawaban dengan senyuman yang lepas dari dalam hati.
“ngeh pak, dadine sampeyan iki koncokne ibuku toh pak”, dengan keterbukaan tersebut, akhirnya sampai sekarang berteman dan sering ngopi bareng, kalau diantara mereka mempunyai waktu yang kosong.
Cerita pendek ini, menggambarkan kalau garis hidup cuma tuhan dan alam yang menggariskan, dan kita hanya melakukan dan keyakian keras , bahwa kita bisa menjadi orang yang bertanggung jawab dalam membimbing keluwarga.
By: Pambudi Eko Cahyono
Untu Protol, Sabtu (25/09/2010
==================================================================================
================================================================================
(sekedar cerita saja).
Beban keluwarga membawa Supardi memikul kebutuhan hidup, hanya semata karena keluwarga, Selaput tangan putih yang siap menghisap keringat ia letakkan di pundaknya.Tak kenal sang fajar,ia berangkat, dan tak kenal petang ia pulang.
Membawa satu pikul ranjang yang berisikan benang, jarum, yang ia ikatkan di belakang sepedah supra fit warna hijau, ia berangkat ke Tuban untuk mengais rupiah, seribu, lima ribu ia kantongi. Nampang depan PMI , Tepatnya, sebelah balai wartawan Tuban ia duduk dan menunggu orang yang mempunyai sepatu atau sandal rusak.
Satu atau dua orang ia menunggu, untuk mendapatkan uang Rp.10.000, hanya ingin membeli beras satu kilo perharinya demi keluwarga tersayang. Lauk seadanya, yang ada disamping rumahnya, yakni daun singkong ia makan setiap hari.
Dari pernikah pertamanya, Supardi nekat untuk meninggalkan keluwarganya, hanya semata ingin mempunyai uang banyak dan membuat keluwarga sakinah dan mawadah.
Malang melintang ia mengadu nasib, dari Jawa Tengah, Jakarta, Samarinda ia lakoni itu, namun garis kehidupan membayanya seperti itu. Sabar dan doa ia panjatkan kepada tuhan, adzan berkumandang seakan mengetuk hatinya untuk berpasrah diri dan meminta petujuk,walaupun itu saat kerja,ia meniggalka aktifitasnya.
Setelah ia berkerja puluhan tahun dari luar daerah, ia hanya membawa uang seadanya, itupun hanya untuk hidup satu bulan, Dan ia memutuskan pulang dengan apa yang ia dapat dari perantauan yang lama itu.
Dari perantuanya , ia berniat pulang untuk berkumpul keluwarga , walaupun di rumah sangat kekurangan sumber pangan. Sehingga lelaki ini membuka usaha dengan menjadi tukang jahit sepatu.
Saat pertama dibuka, ada salah satu pelanggan yang ingin menjahitkan sendal yang baru di beli, dengan duduk dan menunggu sandalnya jadi. Pria tampan sedikit manis ini bertanya kepada Supardi,” sampeyan tiang pundi pak,,?”, dengan nada yang lembut dan intonasi yang lurus.
Pertanyaan tersebut, dijawab tulus dengan penjahit yang berkulit putih itu,” kulo Montong mas”, serentak, jawaban itu membuat pelanggan itu berpikir,”o... kalau gitu iki tonggo iki,,?’ pikiran pria berjenggot yang bernamakan Pambudi Eko Cahyono itu.
Pambudi yang ingin mengetahui alamatnya secara lengkap bertanya kembali” Montong Pundi pak, mpon lami pak tengmriki”, dengan pertanyaan yang panjang, Supriadi yang menggunakan topi yang lawas menjawab,”saya Sumorgong mas, tapi saya jarang dirumah”, jawaban yang halus ia lontarkan kepada pria berambut pendek tersebut.
Pambudi Kaget,”Aku juga Montong pak, walah pak,, podo wong montong. Kok iso ngeneki piye yow, petok ora njarak” dengan bahasa jawa kasar mereka bercanda dan terlihat akrab layak teman lama yang baru ketemu.
Dalam kebersamaanya itu, penjahait beranak dua itu, bertanya kepada Pambudi,” Kopen anak’e sopo dek , kok ora pernah ngerti aku”, pertanyaan itu membuat pria berkulit sawo matang yang keget dengan pertanyaan dengan sandi bahasa itu,” Kulo anak’e ibu Amelia pak, sampeyen kenal ta pak”.
Kaget dengan jawaban itu,”sopo dek, Amelia,,,?. Iku koncoku sekolah dek , dadine sampeyan iki anak’e ,kok wes gede tenan sampeyan, gak ngiro aku dek,” jawaban dengan senyuman yang lepas dari dalam hati.
“ngeh pak, dadine sampeyan iki koncokne ibuku toh pak”, dengan keterbukaan tersebut, akhirnya sampai sekarang berteman dan sering ngopi bareng, kalau diantara mereka mempunyai waktu yang kosong.
Cerita pendek ini, menggambarkan kalau garis hidup cuma tuhan dan alam yang menggariskan, dan kita hanya melakukan dan keyakian keras , bahwa kita bisa menjadi orang yang bertanggung jawab dalam membimbing keluwarga.
By: Pambudi Eko Cahyono
Untu Protol, Sabtu (25/09/2010
==================================================================================
Jumat, 24 September 2010
Mak Ku
Mak Ku
======================
Darah dan nanah kau bersihkan dariku
Tangisan dan tangisan itu aku
Berat dan beban kalau aku lupa
Sepeserpun kau tak mau imbalan
Kutulis ini saat termenung di bibir laut
Ingat ikan pari yang hidup dengan induknya
Walaupau asinya air itu
Tetap terang dan segar dalam kebersamaan
Pelukan ini hanyatnya minta ampun
Menyatu darah yang salurkan lewat nadi
Mator sembah nuwon mak
Agung Samudra yang kuharapkan
Dan sesuwap nasi dari lima jarimu
Aku tak lupa sampai ombak besar datang
Sukses darimu
Dalam permintaanmu kepada Tuhan
Hanya buat buah hati seperti aku ini
By: Pambudi Eko Cahyono
Untu Protol, jumat,(24/09/2010)
======================
Darah dan nanah kau bersihkan dariku
Tangisan dan tangisan itu aku
Berat dan beban kalau aku lupa
Sepeserpun kau tak mau imbalan
Kutulis ini saat termenung di bibir laut
Ingat ikan pari yang hidup dengan induknya
Walaupau asinya air itu
Tetap terang dan segar dalam kebersamaan
Pelukan ini hanyatnya minta ampun
Menyatu darah yang salurkan lewat nadi
Mator sembah nuwon mak
Agung Samudra yang kuharapkan
Dan sesuwap nasi dari lima jarimu
Aku tak lupa sampai ombak besar datang
Sukses darimu
Dalam permintaanmu kepada Tuhan
Hanya buat buah hati seperti aku ini
By: Pambudi Eko Cahyono
Untu Protol, jumat,(24/09/2010)
Rabu, 22 September 2010
Jemari Bergoyang.
Jemari Bergoyang.
==============
Hilang harapan
Jenuh manantinya
Tuatan suwara hanya sesaat
Gaya mata yang berbicara
Jemariku bergoyang
Untuk mengarahkan satu arah
Hanya itu
Nobody see it
Telaga sumber air lenyap
Kerikil menutupi lubang
Padahal didalanya ada buaya
Dan Hiu yang punya suwara geram
Akankah melangkah lagi
Satu langkahpun itu
Terketuk perasan jika melihat
Dan mengerti semua ini
By: Pambudi E.c
Untu Protol, Rabu, (22/9/2010).
==============
Hilang harapan
Jenuh manantinya
Tuatan suwara hanya sesaat
Gaya mata yang berbicara
Jemariku bergoyang
Untuk mengarahkan satu arah
Hanya itu
Nobody see it
Telaga sumber air lenyap
Kerikil menutupi lubang
Padahal didalanya ada buaya
Dan Hiu yang punya suwara geram
Akankah melangkah lagi
Satu langkahpun itu
Terketuk perasan jika melihat
Dan mengerti semua ini
By: Pambudi E.c
Untu Protol, Rabu, (22/9/2010).
Sabtu, 18 September 2010
Lonte bocah embong
Termenung dan sendiri
Iri dengan rambut rapi
Jas hitam
Dan sepatu licin
Kapan dan kapan….?
Keyakinan terjawab
Mata tertutup
Bibir sumbing menutup
Semangat juangku tinggi
Harapan besar
Hayalan tingkat tinggi
Semua terjawab
Kebalnya belakang leher
Ingat dengan duri bayam
Menggelitik dan suram
Enggan menoleh lagi
Langkahku panjang
Karyaku terpendam akan terbuka
Lembaran jalan putih
Menemaniku sekarang
By: pambudie e,c
Untu protol, minggu ,(19/9/2010).
Rabu, 15 September 2010
====================
Keras kota membara mereka lakoni
Koin dan logam dikumpulkan
Satu gemgam nasi
Mereka berbuat itu
Panas luar dan asap tak mereka rasakan
Polusi hanyalah teman
Setia dan merintih
Langkahnya
Suwara petikan senar
Nomer satu baginya
Menyelaraskan situwasi
Hanya demi koin yang bernilai
Hidup sakit,,,
Mereka rasakan senang
Jalan bantu mereka dobrak
Demi hembusan nafas
Harapan dan karya
Terus dilontarkan
Terus sepanjang jalan
By:Pambudi Eko Cahyono
Untu Protol,Selasa Malam, 21.00 Wib(13/9/2010).
Senin, 13 September 2010
Daun Menagis
Daun Menagis
Topannya menggores bibir rambutku
Airmata apiku sayup
Jeritanku tiada henti
Tidak kaupedulikankah itu
Malam ini aku menangis api
Berharap
Air mata dari mata air
Gelombang alami menyentuh hatiku
Apa,,,,
Semerbak hangat dijantung ini
Walaumpun banyak arang merah
Membara dan akan membati buta
Rautan wajahku pucat
Garisan tubuh ini layu
Tiada henti kau goda
Sebasar gunung kidul beban ini.
By: Pambudi E.C
Untu Protol, Selasa Pagi,(14/9/2010).
----------------------------------------------------
Imbas satu teman sigaret.
Imbas satu teman sigaret.
=====================
Saat ku tatap banyaknya kayu kecil di atas kamarku
Pikiranku tak menentu
Hanya detik jam itu yang aku hitung
Dan satu teman yang setia menemaniku
Berhening dan ditemani suwara jangkrik
Tokek yang menyruhku berbuat sesuwatu
Apa langkahku ke depan
Hanya rautan asap rokok yang membuatku tenang
Sunyinya malam
Sunyinya hatiku
Alangkah sukarnya dan syukur
Kuhadapkan padamu
Walau segelintir tubuhmu
Walau merah rambutmmu
Hanya kau yang honest
Menemaniku,
By:pambudi e.c
=====================
Saat ku tatap banyaknya kayu kecil di atas kamarku
Pikiranku tak menentu
Hanya detik jam itu yang aku hitung
Dan satu teman yang setia menemaniku
Berhening dan ditemani suwara jangkrik
Tokek yang menyruhku berbuat sesuwatu
Apa langkahku ke depan
Hanya rautan asap rokok yang membuatku tenang
Sunyinya malam
Sunyinya hatiku
Alangkah sukarnya dan syukur
Kuhadapkan padamu
Walau segelintir tubuhmu
Walau merah rambutmmu
Hanya kau yang honest
Menemaniku,
By:pambudi e.c
Untu Protol,selasa malam(1/9/2010)
-----------------------------------------------
Senyap diri
Senyap diri
==========
Aku senyap bibir
Dan selalu mengetipkan mata
Kapankah ada ucapan yang kuharapkan
Sukar dan kiat kata-katanya
Apa yang buatku begini
Besar dosa yang pikul
Berat sebelahkah
Sampai saat ini aku malu kalau menggingatnya
Racun merah ini
Dimanakah obatnya
Apa dipelosok desa gunung
Hai..bagaiman..apa..
Itulah yang membayangiku
Cermin hitam selalu ada
Dimana q menepatkan kaki yang penuh tanah liat ini
By:pambudi ec
Untu protol :(selasa/7/9/2010)
==========
Aku senyap bibir
Dan selalu mengetipkan mata
Kapankah ada ucapan yang kuharapkan
Sukar dan kiat kata-katanya
Apa yang buatku begini
Besar dosa yang pikul
Berat sebelahkah
Sampai saat ini aku malu kalau menggingatnya
Racun merah ini
Dimanakah obatnya
Apa dipelosok desa gunung
Hai..bagaiman..apa..
Itulah yang membayangiku
Cermin hitam selalu ada
Dimana q menepatkan kaki yang penuh tanah liat ini
By:pambudi ec
Untu protol :(selasa/7/9/2010)
Coretan Dinding Kayu
Coretan Dinding Kayu
Kiat olesan segelintir kain yang membasahi tubuhmu
Tersipu dan melirik saja bola pimpong matamu
Bibir merona kau tancapkan padanya
Besar dan sabar itu perilakumu
Hanya senyap saja dirimu
Cobalah dan cobalah
Apa intinya dari ini
Sukar baginya kalau mematikan sinyal
Kotor seluruh birahimu
Terselimut kain putih
Dan itulah khayalan sehening embun
Diatas alang- alang
Gerogotan rayap tidak kau rasakan
Berpangku sajakah dirimu
Dan memainkan telunjuk jarimu
Itu bomerang bagi dirinya
By:pambudi E,C
Untu Protol, Senin Malam (21,00 Wib/13/9/2010).
-------------------------------------------------------------------------
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)