Garis Kehidupan Berbelok, Menjadi Penjahit Sepatu.
================================================================================
(sekedar cerita saja).
Beban keluwarga membawa Supardi memikul kebutuhan hidup, hanya semata karena keluwarga, Selaput tangan putih yang siap menghisap keringat ia letakkan di pundaknya.Tak kenal sang fajar,ia berangkat, dan tak kenal petang ia pulang.
Membawa satu pikul ranjang yang berisikan benang, jarum, yang ia ikatkan di belakang sepedah supra fit warna hijau, ia berangkat ke Tuban untuk mengais rupiah, seribu, lima ribu ia kantongi. Nampang depan PMI , Tepatnya, sebelah balai wartawan Tuban ia duduk dan menunggu orang yang mempunyai sepatu atau sandal rusak.
Satu atau dua orang ia menunggu, untuk mendapatkan uang Rp.10.000, hanya ingin membeli beras satu kilo perharinya demi keluwarga tersayang. Lauk seadanya, yang ada disamping rumahnya, yakni daun singkong ia makan setiap hari.
Dari pernikah pertamanya, Supardi nekat untuk meninggalkan keluwarganya, hanya semata ingin mempunyai uang banyak dan membuat keluwarga sakinah dan mawadah.
Malang melintang ia mengadu nasib, dari Jawa Tengah, Jakarta, Samarinda ia lakoni itu, namun garis kehidupan membayanya seperti itu. Sabar dan doa ia panjatkan kepada tuhan, adzan berkumandang seakan mengetuk hatinya untuk berpasrah diri dan meminta petujuk,walaupun itu saat kerja,ia meniggalka aktifitasnya.
Setelah ia berkerja puluhan tahun dari luar daerah, ia hanya membawa uang seadanya, itupun hanya untuk hidup satu bulan, Dan ia memutuskan pulang dengan apa yang ia dapat dari perantauan yang lama itu.
Dari perantuanya , ia berniat pulang untuk berkumpul keluwarga , walaupun di rumah sangat kekurangan sumber pangan. Sehingga lelaki ini membuka usaha dengan menjadi tukang jahit sepatu.
Saat pertama dibuka, ada salah satu pelanggan yang ingin menjahitkan sendal yang baru di beli, dengan duduk dan menunggu sandalnya jadi. Pria tampan sedikit manis ini bertanya kepada Supardi,” sampeyan tiang pundi pak,,?”, dengan nada yang lembut dan intonasi yang lurus.
Pertanyaan tersebut, dijawab tulus dengan penjahit yang berkulit putih itu,” kulo Montong mas”, serentak, jawaban itu membuat pelanggan itu berpikir,”o... kalau gitu iki tonggo iki,,?’ pikiran pria berjenggot yang bernamakan Pambudi Eko Cahyono itu.
Pambudi yang ingin mengetahui alamatnya secara lengkap bertanya kembali” Montong Pundi pak, mpon lami pak tengmriki”, dengan pertanyaan yang panjang, Supriadi yang menggunakan topi yang lawas menjawab,”saya Sumorgong mas, tapi saya jarang dirumah”, jawaban yang halus ia lontarkan kepada pria berambut pendek tersebut.
Pambudi Kaget,”Aku juga Montong pak, walah pak,, podo wong montong. Kok iso ngeneki piye yow, petok ora njarak” dengan bahasa jawa kasar mereka bercanda dan terlihat akrab layak teman lama yang baru ketemu.
Dalam kebersamaanya itu, penjahait beranak dua itu, bertanya kepada Pambudi,” Kopen anak’e sopo dek , kok ora pernah ngerti aku”, pertanyaan itu membuat pria berkulit sawo matang yang keget dengan pertanyaan dengan sandi bahasa itu,” Kulo anak’e ibu Amelia pak, sampeyen kenal ta pak”.
Kaget dengan jawaban itu,”sopo dek, Amelia,,,?. Iku koncoku sekolah dek , dadine sampeyan iki anak’e ,kok wes gede tenan sampeyan, gak ngiro aku dek,” jawaban dengan senyuman yang lepas dari dalam hati.
“ngeh pak, dadine sampeyan iki koncokne ibuku toh pak”, dengan keterbukaan tersebut, akhirnya sampai sekarang berteman dan sering ngopi bareng, kalau diantara mereka mempunyai waktu yang kosong.
Cerita pendek ini, menggambarkan kalau garis hidup cuma tuhan dan alam yang menggariskan, dan kita hanya melakukan dan keyakian keras , bahwa kita bisa menjadi orang yang bertanggung jawab dalam membimbing keluwarga.
By: Pambudi Eko Cahyono
Untu Protol, Sabtu (25/09/2010
==================================================================================

Tidak ada komentar:
Posting Komentar